Kesaksian Wilardjito Meragukan “Supersemar Soeharto” Part I

Kepalsuan Supersemar, Kebusukan Soeharto

Tiba-tiba Wapres Megawati Soekarnoputri meminta Surat Perintah 11 Maret ‘66 (Supersemar) dibongkar lagi. Surat penyerahan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto itu diduga fiktif. Itu bukan surat yang dibuat dengan lapang dada, namun ada kesan kudeta tak berdarah. Paling tidak, itulah yang membuat keaslian Supersemar diragukan. Berikut laporan Widi Antoro dari Yogyakarta.

Kalaupun surat itu ada, mana buktinya? Kok dirahasiakan begitu ketat? Kok tidak tersimpan di arsip negara? Kok ada dua versi? Satu, kertas kopnya di atas tengah, yang satu lagi di atas pinggir? Lalu mana yang asli? Siapa yang memegang surat sakti yang merupakan bukti sejarah menandai penyerahan tampuk kepemimpinan negara itu?

Mungkin dari sinilah Megawati ikut terusik, lalu memerintahkan agar dibuka lagi sejarah kelabu itu. Tujuannya, agar terjadi proses pelurusan sejarah yang sudah bengkok bercabang dan mengalami distorsi total. Itu bukan semata-mata balas dendam karena sang ayah Megawati yang menjadi korban. Tetapi, pelurusan ini sangat penting untuk memutuskan kepalsuan historis yang membodohkan rakyat selama 32 tahun.

Wilardjito

Polemik ini begitu merajalela, ketika muncul kesaksian seorang warga Kampung Gancahan V, Sidomulyo, Sleman, di pinggiran Yogyakarta. Dari situlah Soekardjo Wilardjito, S.Miss alias Djito (73) lahir. Supersemar yang konon pernah dikantongi Soeharto untuk membangun rezim Orde Baru itu, melesat menjadi agenda perdebatan nasional.

Tokoh-tokoh saling melempar pandangan. Pelik memang! M. Yusuf, Mantan Menhankam/Pangab di era Soeharto pun terbata-bata. Namun, mungkin karena sudah ada ikatan sumpah pocong, dia belum berani buka mulut. Dia masih menutup-nutupi, seolah Supersemar itu memang betul adanya. Konon, dia juga punya arsipnya. Namun, sampai kapan pun dia tidak akan membeberkan surat sakti itu.

Ibarat setrum, para jenderal yang ‘tersisa’, termasuk Soeharto dan orang-orangnya, sudah terhentak dibuatnya. Hujatan rakyat Indonesia begitu dahsyat. Ada pertanyaan besar yang misterius, “Betulkah Soeharto telah mengkudeta Soekarno. Agar tidak terkesan kudeta, dia menggunakan alasan Supersemar?” Tidak ada yang berani memastikan. Misteri inilah yang terus ditunggu kejelasannya.

Waktu terus berjalan. “Tapi, kasusnya membeku?” itulah kini yang berkembang. Inilah pertanyaan yang mesti dijawab Pemerintahan Gus Dur-Mega. Keseriusan untuk menemukan kembali surat maha penting yang raib ini diuji. Karena pemerintah tetap berkepentingan untuk mengungkap kebenaran sejarah di balik peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru tersebut.

One thought on “Kesaksian Wilardjito Meragukan “Supersemar Soeharto” Part I

  1. NASKAH ASLI SUPERSEMAR DITEMUKAN ?

    Oleh Dasman Djamaluddin

    “Presiden Punya Informasi tentang Naskah Asli Supersemar,’ itulah salah satu lead berita yang saya baca.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono katanya memiliki informasi tentang keberadaan naskah asli Surat perintah 11 Maret yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Bahkan Presiden sudah meminta Arsip Nasional menindaklanjuti benar atau tidaknya informasi tersebut.

    Sejauh ini generasi muda bangsa masih mendambakan ditemukannya surat asli tersebut.Sejak 11 Maret 1966, naskah asli Supersemar hilang. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar berbagai versi Supersemar. Sudah tentu yang beredar itu naskah palsu, karena yang asli belum ditemukan. Membingungkan, karena naskah aslinya tidak juga ditemukan. Untunglah pencarian naskah asli Supersemar tetap dilaksanakan. Buktinya Presiden RI sekarang punya informasi tentang itu.

    Diakui bahwa sudah muncul rasa “bosan”, jika seseorang mendengar naskah asli Supersemar. Apa betul naskahnya bisa diperoleh ? Sebagai contoh, kebosanan itu telah merasuki pola berpikir para intelektual kita dalam Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif “Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar,” pada Selasa, 25 Maret 2008 di Fakultas Hukum Universitas YARSI, Jakarta.

    Selain saya sebagai pembicara (Penulis Buku:”Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar”/Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/LPSS), hadir pula Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Penulis buku:”Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit”) dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966). Terlihat sangat jelas ada ‘kebosanan’ berbicara tentang naskah asli Supersemar. Bahkan Anhar Gonggong dan Atmadji Sumarkidjo mengatakan, naskah asli adalah bagian masa lalu, oleh karena itu naskah asli Supersemar tidak perlu dicari). Tetapi saya di dalam makalah :”Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang,” tetap bertahan bahwa naskah asli Supersemar harus ditemukan, demi generasi pewaris bangsa ini ( makalah lengkap ada di http://dasmandj.blogspot.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s