Kesaksian Wilardjito Meragukan “Supersemar Soeharto” Part II

Kini siapa yang tidak kenal dengan Soekardjo Wilardjito? Namanya melambung seiring kesaksiannya soal Supersemar yang masih menyimpan cerita gelap. Wilardjito yang semasa kecilnya menjadi teman main dan masih terhitung kerabat dekat Soeharto, menjadi saksi mata penandatanganan surat pelimpahan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto tahun 1966.

Menurut versi Orba, surat inilah yang menaikkan Soeharto sebagai presiden kala itu. Namun, dari kesaksiannya, Seokarno terpaksa menandatangani Supersemar itu. Ia dikelilingi empat jenderal, yaitu Mayjen M. Panggabean , Mayjen Basuki Rachmat, Mayjen Amir Mahcmud, dan Mayjen M. Yusuf. Penandatangan dilakukan 11 Maret 1966 pukul 01.00 dinihari.

Saat itu, dada Bung Karno ditodong pistol FN Kaliber 45 oleh Mayjen Panggabean dan Basuki Rachmat”, kata Wilardjito. Melihat itu, Djito (nama panggilan semasa muda dan saat bertugas) yang berada di belakang Soekarno, langsung bereaksi cepat. Ia mencabut pistolnya. Namun, tindakan Djito yang saat itu menjabat kepala Keamanan Istana Bogor dihentikan oleh Bung Karno.

Mendengar perintah tegas itu, aku Wilardjito, dia kembali menyarungkan pistolnya. Walaupun nuraninya bergolak, perintah adalah perintah. Bung Karno presiden dan ia adalah bawahan, jadi harus tunduk. Apa pun alasannya. Tak ada yang bisa diperbuat, sementara tak ada perintah untuk meninggalkan tempat, ia pun merekam kejadian itu sambil mengawasi kalau-kalau perintah susulan dari mulut Bung Karno terucap.

Namun, hingga acara penantanganan selesai, tak ada satu pun perintah lanjutan. Menurut Djito, surat ketikan dengan stopmap merah jambu yang disodorkan M. Yusuf kepada Bung Karno untuk ditandatangani itu tak lain adalah diktum militer, bukan diktum kepresidenan. Alasannya, kondisi keamanan negara dalam keadaan darurat, sehingga tidak mungkin diubah kembali.

Setelah menandatangani, Bung Karno berpesan kalau situsi sudah pulih, mandat itu harus segera dikembalikan. Pertemuan bubar. Para jenderal cepat meninggalkan istana. Sementara Bung Karno hanya berpesan kepada Djito bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujanya menirukan pesan Soekarno.

Diciduk

Belum hilang rasa terpananya, 30 menit kemudian Istana Bogor sudah diduduki pasukan dari RPKAD dan Kostrad, yang siap dengan senjata terkokang siap tembak. Sementara dirinya dan anggota keamanan lainnya diciduk dan ditahan. Semua surat-surat disita, antara lain surat
kenaikan pangkat, surat tanda jasa (KOM I, KOM II), surat tugas, dan ijazah pendidikan militer. “Saya dibawa ke Rutan Militer (RTM) Lapangan Banteng Jakarta, dan dituduh PKI. Kemudian saya dipindah ke rutan lain sampai enam kali. Siksaan berat pun saya terima.

Malahan siksaan itu pernah saya alami di Denpom Yogyakarta. Kemaluan saya sempat disetrum, tubuh digebuki. Tapi yang paling menyakitkan saat dicambuk dengan cambuk yang terbuat dari kemaluan sapi jantan. Sakitnya sampai terasa ke tulang sumsum,” kenang bapak berputra sembilan yang saat itu berpangkat Letnan Dua Infanteri.

Terakhir, ia menghuni rutan di Ambon. Tahun 1978 baru ‘dibebaskan’ dengan status Tapol Golongan B. Saat dibebaskan, ia sama sekali tidak mengantongi uang sepeser pun untuk pulang. Padahal, jarak Ambon dan Yogyakarta tidak bisa ditempuh dengan tangan hampa.

Namun untunglah, beberapa teman yang ia kenal saat masih aktif dan menjabat Komandan Seksi Keamanan Penguasa Perang Daerah Maluku dan Irian Barat (Peperda MIB) banyak membantunya. “Ini semua keajaiban yang dilimpahkan Tuhan kepada saya.” Malahan ia pulang dengan naik pesawat sembari membawa oleh-oleh yang banyak buat keluarga besarnya.

Teror

Sekembalinya dari Ambon, bermacam teror terus mengancam keselamatan jiwanya. Tampaknya nasib tetap tidak berpihak pada dirinya. Menyandang predikat bekas Tapol PKI sungguh sangat menyulitkan hidupnya dan seluruh keluarganya. Ditambah lagi, kata Wilardjito, pemerintahan Soeharto dengan Orba-nya telah sedemikian rupa mengeksploitasi peristiwa PKI untuk menghatui rakyat.

Rakyat menjadi takut berdekatan dengan orang-orang yang pernah terlibat PKI, terlebih bekas Tapol. Djito dikucilkan oleh masyarakatnya sendiri. Gerak-geriknya masih diawasi perangkat desa. Untunglah masih ada yang berbaik menerimannya. Gelar Sarjana Misionaris-nya membawanya untuk bisa membantu mengajar di Sekolah Tinggi Misiologi YKPN Yogyakarta.

Namun, itu tetap saja tidak cukup. Anaknya sembilan. Istrinya, Sih Wilujeng hanya bisa membantu mencukupi kebutuhan keluarga berprofesi sebagai buruh kecil. Penghasilannya setiap hari hanya dapat untuk membeli 3 kg beras. Sudah selayaknyalah bila tiba waktu makan, semua anggota keluarganya rayahan (saling berebut, Red).

Baginya, kesempatan tidak akan ada untuk kali kedua. Maka, saat reformasi bergulir dan Soeharto tumbang, ia pun tidak tinggal diam. Rasa takut mulai dia disisihkan jauh-juah. Dia mulai bersuara lantang untuk menuntut hak dan kejelasan statusnya selama dinas di militer. Sekaligus dia minta agar namanya direhabilitasi. LBH Yogyakarta adalah tujuan pertama pengaduannya.

Tampaknya, LHB Yogyakarta pun responsif. Menyadari kesaksiannya dianggap penting, Wilardjito akhirnya menganggap upayanya ini tanggung. Lantas ia meneguhkan hati untuk sekalian meluruskan sejarah Supersemar yang selama ini, menurut dia, sudah jauh menyimpang dari cerita aslinya. Tentu, dia menuduh Soeharto telah membengkokkan demi kelanggengan kekuasannya.

Akibatnya lain, ia dituduh menyebarkan berita bohong. Polisi pun akhirnya menjadikan dirinya sebagai tersangka. Tak hanya sampai di situ, teror dan ancaman juga mengalir. Bahkan keluarganya akan dibasmi. “Bila dihitung-hitung, sejak kasus ini diramaikan media, sudah puluhan kali ancaman dialamatkan ke sini. Malahan orang-orang tak dikenal kerap menyatroni rumah kami dengan mengatakan, jangan berbuat macam-macam atau kami basmi,” tiru Wilardjito.

Sas sus yang beredar, ultimatum kepada Wilardjito itu datangnya dari antek-antek Soeharto. Bahkan, sebuah sumber mengatakan kalau ancaman itu sesungguhnya datangnya dari kerabat Soeharto yang masih tercecer di Yogyakarta. Mereka punya pengaruh dan memiliki banyak pengikut, selain mampu menyewa para preman.

Surut?

Ternyata tidak. Tekadnya untuk meluruskan sejarah tetap berkobar. Hingga kini, Wilardjito tetap menolak dijadikan tersangka penyebar berita bohong. Menolak dihadapkan ke pengadilan apabila para saksi yang masih hidup termasuk Soeharto menolak datang memenuhi panggilan pengadilan. “Kalau Jenderal M. Yusuf dan Panggabean juga menolak datang ke pengadilan karena merasa dirinya jenderal dan sudah tua, saya pun juga punya hak untuk keberatan datang. Mereka itu saksi kunci. Kalau masalah tua dan fisik, fisik saya lebih buruk ketimbang mereka. Lantas, apa tuanya jenderal dan presiden berbeda dengan tuanya seorang letnan?” kilahnya. ***

One thought on “Kesaksian Wilardjito Meragukan “Supersemar Soeharto” Part II

  1. NASKAH ASLI SUPERSEMAR DITEMUKAN ?

    Oleh Dasman Djamaluddin

    “Presiden Punya Informasi tentang Naskah Asli Supersemar,’ itulah salah satu lead berita yang saya baca.

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono katanya memiliki informasi tentang keberadaan naskah asli Surat perintah 11 Maret yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Bahkan Presiden sudah meminta Arsip Nasional menindaklanjuti benar atau tidaknya informasi tersebut.

    Sejauh ini generasi muda bangsa masih mendambakan ditemukannya surat asli tersebut.Sejak 11 Maret 1966, naskah asli Supersemar hilang. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar berbagai versi Supersemar. Sudah tentu yang beredar itu naskah palsu, karena yang asli belum ditemukan. Membingungkan, karena naskah aslinya tidak juga ditemukan. Untunglah pencarian naskah asli Supersemar tetap dilaksanakan. Buktinya Presiden RI sekarang punya informasi tentang itu.

    Diakui bahwa sudah muncul rasa “bosan”, jika seseorang mendengar naskah asli Supersemar. Apa betul naskahnya bisa diperoleh ? Sebagai contoh, kebosanan itu telah merasuki pola berpikir para intelektual kita dalam Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif “Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar,” pada Selasa, 25 Maret 2008 di Fakultas Hukum Universitas YARSI, Jakarta.

    Selain saya sebagai pembicara (Penulis Buku:”Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar”/Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/LPSS), hadir pula Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Penulis buku:”Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit”) dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966). Terlihat sangat jelas ada ‘kebosanan’ berbicara tentang naskah asli Supersemar. Bahkan Anhar Gonggong dan Atmadji Sumarkidjo mengatakan, naskah asli adalah bagian masa lalu, oleh karena itu naskah asli Supersemar tidak perlu dicari). Tetapi saya di dalam makalah :”Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang,” tetap bertahan bahwa naskah asli Supersemar harus ditemukan, demi generasi pewaris bangsa ini ( makalah lengkap ada di http://dasmandj.blogspot.com).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s