Metamorphic of Scaramouche : hidup di keluarga didikan pesantren (EDIT 4)

buat kamu yang muslim, pernah nggak ikut acara tahlilan atau pengajian?? itu loh yang  setelah selesai acara  tumpah ruah segala jenis cabe-cabean makanan??.

kalo kamu liat begitu banyak makanan disajikan maka kamu harus nyesel… nyesel karena lupa mengosongkan perut terlebih dahulu, atau lupa ngajuin judul skripsi #hadeh.

pengajian bagi remaja gaol dan fangkih seperti gueh itu adalah hal yang sangat membosankan (remaja calon kena azab), iya itu diawalnya,
sering liat nggak ada orang yang tadinya ngantuk, dengat dengut, muka nempel di karpet, karpet basah karena iler..tapi kalo sudah mendengar bunyi “ting ting ting ting” pasti muka terangkat, mata sumringah, mulut kembali komat kamit, iya.. itu gueh banget.

walaupun mulut komat kamit sembari membuka halaman buku tahlil pikiran tetep saja memikirkan  ada apa dibalik bunyi ting ting. kalo minum jelas teh manis anget tetapi makanan adalah hal yang sulit ditebak. dari sini kita mulai membelokan niat yang tadinya karena alloh menjadi nawaitu tahlilan biar dapat makanan.

aku lahir di sebuah desa dimana pengajian merupakan suatu hal rutin, apalagi keluargaku terkenal keluarga jebolan pondok pesantren, bapak dan ibu aku dari pesantren, ketemu di pesantren, pacaran di pesantren, nikahnya di luar hamil #apaseh.

banyak keuntunganya hidup dari keturuan keluarga pesantren diantaranya “jeng jeng jeng jeng (musik pembuka)”

pertama : terkenal aktif, selalu di undang ke acara pengajian atau tahlilan dan dianggap orang penting di pengajian tersebut. setiap habis isya aku menanti bapak pulang tahlilan, itu seminggu bisa 2 sampai 4 kali tergantung dari berapa banyak orang yang meninggal. jadi kadar protein didalam tubuhku berbanding lurus dengan seberapa banyak orang meninggal di minggu tersebut.
jadi kalo ada orang meninggal itu merupakan suatu anugrah terindah yang pernah kumiliki… teringat tawamu mendengar senandungku..jreng jreng jreng.

kedua : terkenal, ya  itu pasti karena bapak dan ibu aku ikut andil dalam acara keagamaan pasti terkenal, baik terkenal menjadi bagian penting dalam acara juga terkenal karena sering membawa pulang lauk sisa acara.

ketiga : Menjadi contoh/teladan dan disukai cwe-cwe remaja masjid , *mungkin yang ini terlalu maksa.

eh jangan kira loh hidup di keluarga basic pesantren itu tidak merasakan kepedihan, walaupun kamu tahu aku udah di jamin masuk surga….loh (ngimpi)

aku ulangi bahwa aku seorang pemalas didikan keluarga berpendidikan pesantren, semua keluarga pesantren dan aku adalah satu satunya yang tidak mengenyam pendidikan pesantren. hal yang paling menyedihkan adalah ketika ada acara kumpul keluarga kemudian tibalah saatnya doa dan disitulah aku pengin mencekik leher sendiri.. gimana tidak?? aku tidak tahu apakah yang mereka ucapkan, mau nggak mau aku harus lipsing dengan keringet yang menetes satu persatu dari bagian belakang kepalaku.

aku adalah anak yang rajin mengaji (dulunya dimulai sejak umur 3 tahunan), hidup di desa memang sangat enak setiap minggu ada aja yang ngrayain pengajian mengundang ki yai – ki yai kondang, tak jarang kalau aku dewasa sebelum waktunya, terkadang apa yang diucapkan pak kiyai itu menimbulkan pertanyaan sendiri, ya pastinya dong aku menceritaakan apa yang aku dapat di pengajian kepada kedua orangtuaku,

“mah… arti senggama apa sih??” tanyaku sambil ucek-ucek mata dan sesekali menggaruk-garuk punggung.

ibuku tak lantas menjawab dia memilih asik mengiris wortel dari pada menjawab pertanyaanku. aku menyadari itu adalah sebuah kata yang tidak mungkin dimengerti oleh anak kecil yang manis sepertiku. ah lupakan tentang senggama. membahasnya aku malah jadi kepengin…ashsudalah.

setiap bulan-bulan baik pasti menumpuk undangan-undangan di meja tamu, terkadang masih ada beberapa masih terselip di bawah pintu, aku adalah yang mengumpulkan undangan-undangan tersebut, membacakanya di depan kedua orangtuaku .mungkin kedua ortuku memiliki maksud biar aku suka membaca dan aku memang suka, tapi bukan suka membaca kesuluruhan tetapi lebih kepada untuk melihat sebuah kata yang diisi dikolom “hiburan”

hiburan sebuah acara di desa paling banter kuda lumping a.k.a embeg, lengger, wayang. dan ada juga yang mencantumkan “pengajian” di kolom hiburan.

gini orang punya hajat itu berharap balik modal maka terkadang mereka pikir-pikir untuk melangsungkan hiburan atau tidak,