Tita Pertama

tepat gue mau mulai menulis sampah ini hujan turun, gue duduk bersila bersandar pada tembok sesekali melirik kearah dimana kendaraan lalu lalang, tak ada kebisingan yang ada hanya alunan marron 5 menyanyikan beautiful goodbye.
entah kenapa dalam pikiran gue seperti hidup kembali 5 tahun yang lalu, ketika pertama kalinya gue  mengucapkan “maukah kau mendampingi hidupku..”, ya lima tahun lalu teringat seorang gadis manis yang begitu tega membiarkan tubuh kering ini basah diguyur hujan 2 jam di alun-alun kota.
gue teringat ketika berdiri sambil memandangi sekeliling menanti kedatanganya dengan sesekali melihat ujung jari yang semakin mengkirut.
mulut enggan membuka takut air masuk mulut dan gue takut nanti masuk ke mulut lalu mengenai hati yang akhirnya mengarat,
hati terus memanjatkan doa semoga gue beruntung hari itu, ya hari itu adalah dimana seorang gadis akan mengatakan apapun yang membuat gue tersenyum dan  membuat seketika hujan berhenti.
waktu yang dinanti telah tiba dia memegang tangan mengiyakan, hangatpun terasa seperti mentari kembali bersinar, dan terlihat dengan jelas  di ufuk timur 7 warna pelangi.

 

About these ads

One thought on “Tita Pertama

  1. Bau tanah menyeruak pelan di antara kepungan bulir bulir hujan. Gumpalan debu yang tersapu angin berangsur angsur menghilang terhapus air, menyisakan semerbak wangi basah yang terlalu menggoda di hirup seorang gadis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s